Menghidupkan Nadi Bahari di Ruang Kelas: Sebuah Upaya Mengukur Literasi Maritim

TANJUNGPINANG – Di Kepulauan Riau, laut adalah halaman depan peradaban. Terletak strategis di tepi Selat Malaka, provinsi ini adalah denyut nadi maritim yang menghubungkan berbagai pulau. Namun, sebuah tantangan besar membayangi dunia pendidikan kita: apakah anak-anak yang lahir di tengah “benua air” ini benar-benar memahami identitas kemaritiman mereka? Ataukah laut hanya dianggap sebagai latar belakang pasif, sementara pembelajaran di sekolah tetap terkunci pada logika daratan?

Kurikulum Merdeka menuntut relevansi, mendesak agar pembelajaran berakar pada konteks lingkungan dan budaya setempat. Bagi Kepulauan Riau, konteks itu adalah kemaritiman. Literasi maritim bukan sekadar tahu nama ikan, melainkan kemampuan memahami laut melalui kacamata sains yang kompleks—mulai dari potensi energi, dinamika ekosistem, hingga kalkulasi ekonomi masyarakat pesisir. Sayangnya, hingga kini belum ada alat ukur yang valid untuk memetakan sejauh mana para guru Sains dan Matematika telah menanamkan literasi vital ini.

Menerjemahkan Samudra ke dalam Angka dan Logika

Merespons kekosongan ini, Nur Asma Riani Siregar dan tim peneliti dari FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) mengembangkan sebuah instrumen evaluasi yang dirancang khusus untuk mengukur integrasi sumber daya maritim dalam pembelajaran.

Penelitian ini mendefinisikan literasi maritim dalam empat pilar utama yang harus hadir di ruang kelas:

  1. Sumber Daya Hayati Laut: Memahami biodiversitas flora dan fauna laut bukan hanya sebagai hafalan biologi, tetapi sebagai aset kehidupan.
  2. Ekosistem Pesisir: Menganalisis interaksi di hutan bakau dan terumbu karang sebagai sistem ekologi yang kompleks.
  3. Energi dan Mineral: Menggunakan konteks fisikawi laut—seperti energi gelombang, transportasi kapal, hingga potensi tambang—sebagai materi ajar fisika dan sains terapan.
  4. Budaya Masyarakat Pesisir: Mengintegrasikan kearifan lokal, pola mata pencaharian nelayan, dan tradisi pesisir ke dalam logika matematika dan analisis data.

Dalam visi literasi ini, Matematika dan IPA menjadi jembatan untuk memahami realitas maritim. Siswa diajak menghitung probabilitas rute pelayaran atau menganalisis data hasil tangkapan, menjadikan laut sebagai laboratorium hidup yang relevan.

Validasi Peta Jalan Pendidikan

Untuk memastikan instrumen ini mampu memotret literasi maritim secara akurat, tim peneliti melakukan uji validitas konten melibatkan lima ahli di bidang pendidikan Sains dan Matematika. Analisis menggunakan Indeks Aiken menunjukkan hasil yang meyakinkan: seluruh butir instrumen dinyatakan valid, dengan nilai indeks melampaui ambang batas standar.

Hasil validasi ini menegaskan bahwa kuesioner yang dikembangkan mampu merekam secara komprehensif bagaimana guru mentransfer pengetahuan kemaritiman kepada siswa.

Menuju Generasi Berwawasan Bahari

Pengembangan instrumen ini adalah langkah fondasional dalam membangun literasi maritim yang kokoh. Dengan alat ukur yang valid, kita kini dapat mengevaluasi apakah sekolah-sekolah di beranda negeri ini telah benar-benar mencetak generasi yang “melek laut”—generasi yang tidak memunggungi samudra, tetapi mengelolanya dengan bekal sains dan kearifan budaya.


Identitas Publikasi

Judul Paper: Utilization of Marine and Coastal Resources of the Riau Archipelago

Penulis: Nur Asma Riani Siregar*, Febrian Febrian, Puji Astuti, Susanti Susanti, Metta Liana, Roma Doni Azmi, dan Aang Yudho Prastowo.

Afiliasi: Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Indonesia.

Tautan DOI:

10.1088/1755-1315/1559/1/012041

Artikel Lainnya