{"id":1873,"date":"2026-01-04T23:12:44","date_gmt":"2026-01-04T16:12:44","guid":{"rendered":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/?p=1873"},"modified":"2026-01-04T23:51:59","modified_gmt":"2026-01-04T16:51:59","slug":"menjaring-hikayat-di-laut-menghidupkan-kembali-sastra-lisan-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/?p=1873","title":{"rendered":"Menjaring Hikayat di Laut, Menghidupkan Kembali Sastra Lisan di Era Digital"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KEPULAUAN RIAU<\/strong> \u2013 Bagi masyarakat Kepulauan Riau, laut bukan sekadar hamparan biru tempat mencari nafkah, melainkan jantung dari tradisi dan kebudayaan yang telah berdenyut selama berabad-abad<sup><\/sup>. Di wilayah yang didominasi oleh perairan ini, nenek moyang mewariskan sebuah &#8220;perpustakaan&#8221; tak kasat mata yang dikenal sebagai sastra lisan\u2014termasuk cerita rakyat, mitos, legenda, dan pantun\u2014yang berfungsi jauh melampaui sekadar hiburan pengantar tidur<sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menyingkap betapa vitalnya peran tradisi tutur ini. Dr. Dody Irawan dan timnya menemukan bahwa sastra lisan bertindak sebagai wadah penyimpanan memori kolektif yang menjaga keberlangsungan budaya lokal. Lebih dari itu, cerita rakyat dan mitos kuno ternyata menyimpan data teknis yang krusial: teknik navigasi tradisional, cara membaca tanda-tanda alam, pola arus laut, hingga strategi penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan ini adalah panduan bertahan hidup yang membedakan komunitas maritim Kepulauan Riau dengan masyarakat lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perekat Sosial di Tengah Gelombang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di daratan dan pesisir, bentuk sastra lisan seperti pantun, syair, dan gurindam memegang peran sentral dalam merajut kohesi sosial. Dalam ritual adat, pernikahan, hingga penyelesaian konflik, pantun digunakan sebagai bahasa diplomasi yang santun namun sarat makna, mengajarkan etika dan moral kepada generasi penerus<sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup>. Syair dan gurindam bukan sekadar nyanyian, melainkan penanaman nilai-nilai kebersamaan yang memperkuat identitas komunal mereka sebagai masyarakat bahari<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ancaman Arus Zaman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, warisan luhur ini kini menghadapi &#8220;badai&#8221; baru bernama modernisasi dan globalisasi. Gelombang informasi asing dan perubahan gaya hidup perlahan menggerus eksistensi tradisi lisan<sup><\/sup>. Generasi muda kini lebih akrab dengan gawai dan media modern, sering kali mengabaikan kekayaan budaya tutur yang dimiliki tanah kelahirannya<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Strategi Penyelamatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menyadari ancaman kepunahan ini, Tim peneliti menekankan urgensi strategi pelestarian yang komprehensif. Integrasi materi sastra lisan ke dalam kurikulum sekolah formal dianggap langkah efektif untuk memperkenalkan kembali kekayaan ini kepada siswa sejak dini. Selain itu, digitalisasi\u2014merekam dan mendokumentasikan cerita serta syair dalam format audio-visual\u2014menjadi kunci agar warisan ini dapat diakses oleh generasi digital dan tidak hilang ditelan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Festival budaya dan kolaborasi dengan media sosial juga disarankan sebagai cara untuk memantik kembali kebanggaan kaum muda<sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup><sup><\/sup>. Dengan merawat sastra lisan, masyarakat Kepulauan Riau sesungguhnya sedang menjaga kompas identitas mereka agar tidak tersesat di tengah samudra modernisasi<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Identitas Publikasi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Judul Paper:<\/strong> <em>The Role of Oral Literature in Preserving the Maritime Cultural Identity of the Malay Community in the Riau Islands<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penulis:<\/strong> Dody Irawan, Suhardi Suhardi, Tessa Dwi Leoni, Zaitun Zaitun, Musliha Musliha, Robby Patria, Tety Kurmalasari, Rines Onyxi Tampubolon, dan Atmadinata Atmadinata<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Afiliasi:<\/strong> Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Indonesia<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tautan DOI:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1051\/shsconf\/202420502005\">10.1051\/shsconf\/202420502005<\/a> <sup><\/sup><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KEPULAUAN RIAU \u2013 Bagi masyarakat Kepulauan Riau, laut bukan sekadar hamparan biru tempat mencari nafkah, melainkan jantung dari tradisi dan kebudayaan yang telah berdenyut selama berabad-abad. Di wilayah yang didominasi oleh perairan ini, nenek moyang mewariskan sebuah &#8220;perpustakaan&#8221; tak kasat mata yang dikenal sebagai sastra lisan\u2014termasuk cerita rakyat, mitos, legenda, dan pantun\u2014yang berfungsi jauh melampaui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1874,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"_kad_post_classname":"","footnotes":""},"categories":[19],"tags":[18],"class_list":["post-1873","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-penelitian","tag-penelitian"],"acf":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":19,"label":"Penelitian"}],"post_tag":[{"value":18,"label":"Penelitian"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/48.-Makyong-museumt-anjungpinang-1024x732.jpg",1024,732,true],"author_info":{"display_name":"Editor Web FKIP","author_link":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/?author=6"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":19,"name":"Penelitian","slug":"penelitian","term_group":0,"term_taxonomy_id":19,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw","cat_ID":19,"category_count":3,"category_description":"","cat_name":"Penelitian","category_nicename":"penelitian","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":18,"name":"Penelitian","slug":"penelitian","term_group":0,"term_taxonomy_id":18,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1873","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1873"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1873\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1902,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1873\/revisions\/1902"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1873"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1873"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fkip.umrah.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1873"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}